Archive for January 2015

Apa Kata Terpopuler di Internet 2014?

Kata terpopuler sepanjang 2014 ternyata bukanlah sebuah “kata”, melainkan emoji, tepatnya emoji berbentuk hati.

Hal ini diungkapkan oleh lembaga Global Language Monitor (GLM) berdasarkan hasil riset terhadap Twitter, Facebook, aneka blog, serta 250 ribu outlet berita di seluruh dunia selama 12 bulan terakhir.

“Emoji hati dan cinta, emoticon, dan berbagai variasinya muncul miliaran kali setiap harinya di seluruh dunia dalam berbagai bahasa dan budaya,” tulis GLM dalam laporannya, sebagaimana dikutip KompasTekno dari The Verge, Minggu (4/1/2014).

Emoji sendiri merupakan ideogram alias gambar atau icon digital kecil yang dipakai sebagai bagian dari teks untuk mengungkapkan perasaan penulisnya. Sejak muncul di Jepang menjelang akhir abad ke-20, penggunaan emoji telah meluas ke seluruh dunia.

“Ini merupakan kali pertama sebuah ideogram menjadi kata terpopuler di dunia,” tambah GLM.

Tahun lalu, kata terpopuler menurut riset GLM adalah “404” atau kode yang muncul ketika terjadi kesalahan loading laman internet. Kata terpopuler kedua dan ketiga masing-masing adalah “hashtag” dan “vape’.

GLM juga menyebutkan bahwa nama terpupuler sepanjang 2014 adalah “Ebola”, diikuti oleh “Pope Francis”.

sumber : KOMPAS.com

“Diharamkan” Steve Jobs, Dipatenkan Apple

Pendiri Apple, mendiang Steve Jobs, dikenal tak segan menyerang ide-ide teknologi yang kurang sesuai dengan pandangannya. Salah satu “korban” serangan Jobs adalah perangkat penunjuk stylus.

“Siapa yang mau pakai stylus? Stylus dipakai, disimpan, lalu hilang. Tak ada yang maustylus,” ucap Jobs ketika meluncurkan iPhone generasi pertama di konferensi Macworld, 2007 silam, seperti dikutip KompasTekno dari Business Insider, Rabu (10/12/2014).

Namun, setelah Jobs wafat, nyatanya minggu lalu Apple justru mengajukan paten untuk sebuah perangkat pointing device berbentuk stylus.

Hal tersebut diketahui dari dokumen Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat, bertanggal 4 Desember 2014.

USPTO
Ilustrasi stylus dalam dokumen paten yang diajukan Apple

Dalam dokumen tampak ilustrasi perangkat stylus yang bersangkutan. Konsep stylusApple sekilas terlihat sederhana, tak berbeda dengan alat-alat lain sejenisnya. Namun, tetap saja perangkat ini pernah “dibenci” oleh Jobs.

Meski sedang berusaha dipatenkan, stylus besutan Apple itu belum tentu terwujud dalam bentuk produk jadi. Belum jelas pula seperti apa skenario penggunaan stylus dalam bayangan Apple.

Boleh jadi alat ini akan dipakai menunjang produktivitas dengan gadget mobile, misalnya saat digunakan profesional atau murid di sekolah.

Apple bukan sekali ini saja melanggar “petuah” dari pendirinya. Jobs, misalnya, juga tak setuju dengan konsep tablet 7 inci dan smartphone layar lebar. Keduanya belakangan malah terwujud dalam bentuk iPad Mini serta duet iPhone 6 dan iPhone 6 Plus.

sumber : KOMPAS.com

Pemerintah Tetapkan Hari Tanpa Video Game

http://images.detik.com/content/2015/01/28/654/112147_akahh.jpg

Tokyo – Bagi sebagian orang, main video game mungkin jadi salah satu hal paling menyenangkan. Namun khususnya para siswa harap hati-hati, bila terlalu sering bermain maka nilai pelajaran jadi taruhannya. Inilah yang kemudian jadi perhatian pemerintah Jepang.

Guna mengantisipasi anjloknya nilai mata pelajaran para pelajar di Jepang, pemerintah kemudian menggelar program hari tanpa video game. Bukan skala nasional memang, sebatas di Perfektur Hokkaido.

Dikutip detikINET dari Ubergizmo, Rabu (28/1/2015), program tersebut akan dilaksanakan di Hokkaido selama dua hari setiap bulannya. Menurut pemerintah setempat, penurunan atau anjloknya nilai ujian para murid antara lain disebabkan karena mereka terlalu sering bermain video game.

Kesimpulan tersebut didapat setelah pemerintah menemukan beberapa fakta. Misalnya video game ternyata lebih sering dimainkan oleh remaja tanggung ketimbang orang yang beranjak dewasa.

Pada hari tanpa video game itu, anak-anak diharapkan tidak mengutak atik konsol tapi belajar atau bercengkrama bersama keluarga. Program akan mulai dilaksanakan pada minggu ketiga bulan Februari mendatang.
sumber : detik.com

Twitter Tambah Fitur Video dan Group Messaging

http://images.detik.com/content/2015/01/28/398/twittervideo.jpg

Jakarta – Twitter tak mau kalah dengan Facebook dan Instagram. Layanan mikroblogging ini kini memungkinkan pengguna membuat, mengedit dan berbagi video secara langsung. Selain itu, ada juga Group Messaging.

Dikatakan Product Director Twitter Jinen Kamdar, fungsi video di Twitter sebelumnya hanya tersedia bagi para pengiklan, akun Twitter public figure dan influencer. Mereka bisa mengupload video berdurasi 10 menit guna mendapatkan analisa dari follower.

“Cara itu sangat sukses. Kini kami menawarkannya untuk semua pengguna Twitter di mobile. Kami rasa ini adalah perubahan yang mendalam,” ujarnya seperti dikutip dari Sydney Morning Herald, Rabu (28/1/2015).

Kamdar juga menjelaskan kalau fungsi video yang baru ditambahkan ini berbeda dengan Vine, aplikasi berbagi video enam detik yang diakuisisi Twitter pada 2012.

“Vine sangat fokus pada durasi pendek. Ada begitu banyak tool kamera bagi para kreatornya. Untuk fitur video Twitter, lebih menekankan berbagi secara cepat dan instant video berdurasi 30 detik,” ujarnya.

Dikatakannya, belum ada rencana untuk mengintegrasikan Vine ke aplikasi video Twitter. Namun mereka bisa memposting video yang sama baik di akun Vine maupun Twitter di dalam aplikasi Vine.

“Saya rasa yang masuk akal adalah membiarkan kedua aplikasi ini tetap terpisah,” sebutnya.

Sama seperti di Vine, untuk membuat video Twitter, pengguna harus memilih fungsi kamera video, lalu menahan tombol record selama merekam dan melepaskannya ketika sudah selesai.

Untuk saat ini, Twitter video baru bisa dinikmati sebagian pengguna Twitter di iOS. Twitter berjanji akan memperluas ketersediannya, termasuk ke platorm lain seperti Android.

Selain fitur video, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pengguna Twitter kini juga bisa mengirimkan private message hingga ke lebih dari 20 orang sekaligus, dengan Group Messaging.

sumber : detik.com

Wajib Bayar Royalti, Google Tutup Layanan Berita

 Google akan segera menghentikan layanan berita dalam bahasa Spanyol karena undang-undang baru bisa memaksa Google harus membayar ‘royalti’ kepada perusahaan media di negara tersebut.

Undang-undang hak atas kekayaan intelektual ini akan diberlakukan mulai bulan depan dan Google memutuskan untuk tidak meneruskan layanan berita dalam bahasa Spanyol pada 16 Desember ini.

Layanan Google News mengambil kutipan-kutipan berita dari media Spanyol dan raksasa pencarian online ini beralasan bahwa skema membayar kepada perusahaan media “tak bisa diterapkan atau dipertahankan”.

Direktur Berita Google, Richard Gingras, beralasan bahwa Google tidak memasang iklan di layanan berita ini dan karenanya tidak mendapatkan pemasukan.

Ia juga mengatakan perusahaan media bisa memilih untuk tidak dimasukkan ke Google News.

“Sebagian besar ingin dimasukkan ke Google News … layanan kami mendorong orang masuk ke situs mereka yang pada gilirannya bisa mendatangkan penerimaan dari iklan,” papar Gingras.

Undang-undang baru di Spanyol, biasa disebut “Google Tax”, tidak menjelaskan secara rinci berapa “royalti” yang harus dibayar Google.

Sudah sejak lama berbagai perusahaan media di sejumlah negara tidak setuju dengan Google News karena layanan ini dianggap melanggar hak cipta.

sumber : KOMPAS.com