Archive for February 2015

Ini Kebiasaan Pengguna Android di Indonesia

Toko aplikasi Android besutan Baidu, MoboMarket, merilis laporan tentang tren penggunaan smartphone Android di Indonesia. Laporan untuk kuartal IV 2014 tersebut disusun berdasarkan hasil riset terkait kebiasaan pengguna.
Disebutkan dalam laporan MoboMarket yang diterima KompasTekno, Sabtu (17/1/2015), menunjukkan bahwa aplikasi game merupakan aplikasi yang paling banyak diunduh pengguna Android. Sebanyak 43 persen unduhan pengguna adalah game, disusul media sosial (12 persen) dan aplikasi foto (11 persen).
Untuk jenisnya, pengguna Android paling banyak yang menyenangi jenis game ringan dan game arcade, masing-masing sebanyak 16 persen. Kemudian disusul game balapan sebanyak 12persen, game action sebanyak 11persen, dan game olahraga sebanyak 7persen.
Walau aplikasi game menjadi aplikasi favorit yang diunduh, namun pengguna Android lebih sering meng-update aplikasi media sosial, yakni sebesar 39 persen. Presentase tersebut menunjukkan perbandingan yang cukup signifikan dengan daya updatepengguna terhadap game, yakni hanya sebesar 12 persen.
Fakta tersebut sekaligus menyimpulkan bahwa kebanyakan pengguna Android memakai media sosial dalam jangka waktu yang lama. Sebaliknya, game hanya dipakai untuk jangka waktu tertentu.
Selain mengidentifikasi preferensi pengguna dalam mengunduh dan meng-updateaplikasi, MoboMarket juga memaparkan kebiasaan pengguna Android dalam mengakses smartphone. Fakta menunjukkan, pukul 23.00-24.00 adalah waktu puncak di mana pengguna paling banyak mengakses smartphone.
Fakta ini mengkonfirmasi dugaan bahwa kebanyakan pengguna smartphone di Indonesia memiliki kebiasaan berkutat pada smartphone sebelum tidur.

sumber : KOMPAS.com

Turki Ancam Blokir Twitter

http://images.detik.com/content/2015/01/17/398/480055543.jpg

Pemerintah Turki mengancam akan memblokir Twitter di negaranya apabila tuntutannya dipenuhi. Yaitu meminta Twitter untuk memblokir akun Twitter milik sebuah koran lokal di negara itu.

Penyebabnya adalah harian itu menyebarkan dokumen soal penyerangan yang terjadi pada truk milik agensi intelijen Turki saat berada di Suriah Januari lalu, demikian dilansir dari New York Times, Sabtu (17/1/2015).

Tuntutan ini muncul setelah pengadilan setempat memerintahkan pembatasan jangkauan penyelidikan, dan menyebut kemungkinan pemblokiran jejaring media sosial di mana dokumen itu beredar.

Menurut pengadilan itu, penyebaran informasi itu melanggar aturan keamanan nasional, dan mengganggu penyelidikan yang sedang berlangsung.

Akibatnya, media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Google+ harus menghapus konten dari akun yang dimaksud, agar tak diblokir di Turki, seperti yang diperintahkan oleh pengadilan lokal.

“Kami akan bersikap hati-hati untuk melindungi hak-hak pengguna, dan menjaga akses jutaan pengguna Twitter di Turki,” ujar juru bicara Twitter Nu Wexler.

Sebelumnya Turki juga sudah pernah melakukan hal serupa. Pada bulan Maret 2014, layanan Twitter dan YouTube diblokir kehadiran di Turki. Penyebabnya, lagi-lagi kebocoran informasi perihal rencana operasi militer Turki di Suriah.

Namun pemblokiran itu tak berlangsung lama, Twitter kembali aktif setelah dua minggu, dan YouTube bisa diakses lagi dua bulan kemudian.

sumber : detik.com

Simpan Data di Cloud vs Lokal, Aman Mana?

http://images.detik.com/content/2015/01/18/323/124201_cloudvslocal_block.jpg

Penggunaan cloud makin marak saat ini, meski sebenarnya masih banyak juga yang mempertanyakan sejauh mana keamanan penyimpanan awan tersebut. Tak sedikit pengguna yang masih lebih percaya menggunakan penyimpanan lokal seperti misalnya di harddisk. Jadi lebih aman yang mana?

Setuju atau tidak, kasus Edward Snowden telah mengubah paradigma soal keamanan data di departemen IT yang mulai mengandalkan cloud. Terlepas dari regulasi maupun hukum tentang kerahasiaan data privasi, ternyata bukan hanya peretas dan malware yang bisa mendapatkan akses terhadap sebuah data, pihak pemerintah diyakini juga sangat mungkin melakukan itu.

Kasus Snowden dengan sendirinya juga telah memunculkan kecurigaan bahwa badan pemerintahan seperti NSA bisa mengakses data milik pihak lain. Malahan ada isu yang mengatakan hal itu terjadi melalui sebuah ‘kerja sama gelap’ antara pemerintah dengan perusahaan teknologi atau melalui metode lain yang lebih rahasia.

Apakah sebaiknya membuat back-up secara lokal atau ke cloud atau keduanya? Pada akhirnya, sebenarnya ini adalah soal “Proteksi Data”. Backup dan Recovery merupakan bagian dari payung besar proteksi terhadap data. Di mana dan bagaimana data Anda di-backup, begitu penting saat ini, terutama di era penegakan hukum privasi data akibat peretasan yang kerap terjadi.

Apa yang dibongkar oleh Snowden sejatinya telah menjadi perhatian oleh banyak perusahaan. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk mulai berpikir lebih jauh soal penyimpanan data, apakah akan tetap menyimpan data secara internal dalam lingkungan perusahaan atau menggunakan cloud.

Namun, pendapat mengenai bagaimana solusi terbaik untuk ini sangat beragam. Beberapa perusahaan telah menetapkan bahwa hanya departemen IT perusahaan itu sendiri yang dapat dipercaya dengan perlindungan dari data perusahaan dan bahwa data tersebut harus disimpan di dalam fasilitas bangunan perusahaan.

Sementara yang lainnya memilih untuk percaya kepada penyedia layanan cloud tetapi hanya jika data tersebut tetap berada di negara yang sama. Ada juga yang menggunakan metode hybrid yakni menggabungkan solusi data storage pada fasilitas bangunan perusahaan dengan cloud

Jadi, metode mana yang benar? Jawabannya adalah semua benar. Berikut penjelasannya.

1. Penyimpanan secara lokal

Perusahaan yang memilih untuk bekerja bersama vendor, baiknya mempertimbangkan mencari vendor yang fleksibel tanpa harus mengorbankan apapun dari sudut pandang hukum atau teknologi.

Sebagai contoh, jika suatu vendor perlindungan data menggunakan purpose-built backup appliance (PBBA) untuk menyimpan data backup, maka pengguna dari department IT harus bisa mengawasi dan mengelola semua access point keluar masuk perangkat backup itu.

2. Menggunakan cloud

Di sisi lain, jika perusahaan memilih memanfaatkan penawaran cloud dari vendor penyedia jasa backup and recovery, maka perlu dipastikan bahwa data tersebut sudah terlindungi mulai dari sumbernya, baik saat data tersebut sedang transit maupun dalam keadaan tersimpan di cloud — data center milik vendor.

Jangan lupa juga menggunakan teknologi enksripsi data. Metode enkripsi yang paling terbaru saat ini adalah Advanced Encryption Standard (AES) dengan encryption key setidaknya sebesar 128bit dan idealnya dua kali lipat hingga 256bit.

3. Metode hybrid, mengkombinasikan penyimpanan lokal dan cloud

Cara lainnya adalah model hybrid dimana perusahaan melakukan backup dan menyimpan data yang aman baik pada fasilitas bangunan perusahaan dan di cloud.

Ada banyak manfaat dari model hybrid atau yang mulai disebut cloud-connected. Salah satunya adalah memastikan bahwa data perusahaan juga direplikasi ke dalam data center lainnya dan bahkan kalau mungkin di negara lain (seringkali disebut sebagai geo-redundancy).

sumber : detik.com

Pesawat Hilang, AirAsia Berduka di Social Media

http://images.detik.com/content/2014/12/28/398/124843_121731_airasiakelabu.jpg

AirAsia dengan rute Surabaya-Singapura mengkonfirmasi telah hilang kontak dengan ATC Bandara Internasional Soekarno Hatta pukul 06.24 WIB. CEO AirAsia Toni Fernandes melalui akun social media Facebook dan Twitter menunjukkan rasa dukanya.

Pantauan detikINET, Minggu (28/12/2014) warna logo AirAsia yang biasanya merah merona kini berganti menjadi abu-abu kelabu sekitar satu jam yang lalu. Tak hanya warna logo yang berubah, tetapi juga warna cover laman Facebook juga.

Lewat Facebook AirAsia yang kemudian diretweet oleh Tony Fernandes di Twitter, menyebutkan bahwa saat ini pihak AirAsia belum bisa memberikan informasi lebih lanjut mengenai status para penumpang dan kru yang berada di dalam pesawat.

Pesawat itu sendiri merupakan jenis Airbus A320-200 dengan nomor registrasi PK-AXC. Saat ini, operasi pencarian dan penyelamatan sedang dilakukan dan pihak AirAsia sendiri akan bekerjasama dalam operasi tersebut.

Pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ 8501 membawa 155 orang termasuk 7 kru, berangkat pukul 05.20 WIB, Minggu (28/12) pagi. Pesawat tersebut hilang kontak setelah 8 menit lepas landas.

AirAsia juga memberikan nomor emergency call yang tersedia bagi keluarga dan kerabat dengan para penumpang di nomor +622129850801. Selain itu, AirAsia juga akan merilis informasi lebih lanjut melalui website-nya di www.airasia.com.

sumber : detik.com

WhatsApp Kini Bisa Digunakan di 3 Browser

Fitur WhatsApp untuk peranti PC desktop dan laptop telah diperkenalkan pada Januari lalu. Namun saat itu pengguna baru bisa melakukannya dengan browser Google Chrome.

Kini, WhatsApp meluncurkan web client yang mendukung dua browser populer lain, yaitu Firefox dan Opera. Kepastian tersebut disampaikan oleh akun Twitter resmi WhatsApp pada Kamis (26/2/2015).

WhatsApp Web: https://web.whatsapp.com  – Firefox and Opera browsers are now supported!” demikian kicau WhatsApp di akun Twitter resminya.

Dikutip KompasTekno dari Android Authority, Kamis (26/2/2015), desktop client aplikasi WhatsApp di browser Firefox dan Chrome menampilkan percakapan dan pesan dari peranti mobile, dan tetap membutuhkan metode pemindaian QR Code agar saling terhubung.

Metode tersebut sama dengan versi Chrome yang diluncurkan terlebih dahulu.

Untuk menggunakan layanan WhatsApp di browser PC atau laptop, pengguna cukup mengetikkan URL web.whatsapp.com di browser Chrome, Firefox atau Opera mereka dan memindai barcode yang ditampilkan.

Untuk sementara baru pengguna di Android, Windows Phone, dan BlackBerry yang bisa menikmati fitur baru ini. Pengguna gadget Apple berbasis iOS masih harus sedikit bersabar untuk bisa ber-WhatsApp dari PC.

WhatsApp merupakan perusahaan yang dimiliki oleh Facebook. Perusahaan layanan instant messaging ini diakuisisi Facebook pada tahun lalu dengan nilai pembelian yang fantastis, 19 miliar dollar AS (sekitar Rp 236 triliun).

Dari laporan terakhir perusahaan, WhatsApp telah digunakan secara aktif oleh 700 juta pengguna dengan 30 miliar pesan beredar setiap harinya.

sumber : KOMPAS.com