Archive for November 2015

Bikin Konten Lokal Dalam Game Itu Menantang

Bikin Konten Lokal Dalam Game Itu Menantang

Singapura – Fokus menggarap bisnisnya di pasar Indonesia, membuat Sony Computer Entertainment mulai melakukan localize atau menghadirkan konten lokal di dalam game besutannya. Dimulai dari Bloodborne, terjemahan bahasa Indonesia kini juga terlihat di sejumlah game keluaran Sony.

“Benar, kami memang sudah mulai mengadaptasi sejumlah game kami ke dalam bahasa Indonesia. Ini karena Indonesia menjadi pasar yang sangat penting bagi Sony Computer Entertainment,” ujar Deputy President of Sony Computer Entertainment Japan Asia, Hiroyuki Oda dihadapan sejumlah awak media indonesia, termasuk detikINET di ajang GameStart 2015, Singapura, Sabtu (14/11/2015).

Oda pun mengatakan jika ia dan pihaknya berharap bisa sesering mungkin memberi konten lokal pada gamenya yang beredar di Indonesia. “Akan tetapi, perlu diingat bahwa localize tidak semudah terjemahan. Dua hal yang menurut saya sangat berbeda,” papar Oda.

“Mungkin Anda sering melihat film Hollywood dengan teks bahasa Indonesia? Di dunia game tidak semudah itu. Nyatanya banyak yang tidak menyukai konten lokal tadi. Jadi, ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi kami ketika akan menggarap konten lokal,” ungkap Oda.

Ditanya bagaimana soal penjualan PlayStation 4 di Indonesia, Oda menjawab sangat bagus. Sayang, Oda tidak bisa memberikan angka rinci berapa jumlah perangkat yang sukses terjual di Indonesia.

“Maaf saya tidak bisa memaparkan angka untuk Indonesia. Namun, secara global, terhitung hingga bulan Oktober 2015, PlayStation 4 terjual hingga 29 juta unit. Penjualan terbesar di waktu yang singkat dalam sejarah PlayStation,” ujar pria kelahiran 1963 silam ini.

Sebagaimana diketahui, di bulan Mei 2015 lalu secara mengejutkan Sony merilis trailer game Bloodborne dengan teks terjemahan bahasa Indonesia. Sayang, respon dari gamer di Tanah Air kurang begitu bagus. Hal ini dikarenakan terjemahannya dinilai terlalu kaku.

Tak puas hanya di Bloodborne, di bulan Juli 2015 Sony lagi-lagi menambahkan kontek lokal di dalam gamenya. “Pada akhirnya, hanya ada kekacauan,” begitulah kira-kira yang tertulis di sampul belakang game God of Ware Remastered.

Sumber :detik.com

Bikin Mesin yang Bisa Belajar, Google Mau Apa?

Bikin Mesin yang Bisa Belajar, Google Mau Apa?

Machine Learning telah menjadi tren baru di dunia teknologi belakangan ini. Untuk menggenjot lebih jauh hal itu, Google melepas ke ranah open source sesuatu yang mereka punya dan disebut amat penting dalam urusan “proses belajar untuk mesin”.

Machine Learning sendiri adalah sejenis kecerdasan buatan dengan piranti lunak yang digunakan untuk memberi interpretasi dan prediksi dari serangkaian data, dan terus “belajar” dari data dan pengalaman dalam mendefinisikan sesuatu semisal sebuah gambar atau bahkan kejadian.

“Dalam cara lama machine learning adalah dengan menulis sebuah program komputer dengan aturan-aturan eksplisit untuk diikut, tapi cara baru ini membantu program komputer itu sendiri dengan belajar dari contoh dan pengulangan,” ucap Senior Research Scientist Google Greg Corrado di hadapan detikINET dan wartawan dari Asia Pasifik lainnya dalam acara The Magic in the Machine di Tokyo, Jepang, Selasa (10/11/2015).

Salah satu contoh dari “proses pembelajaran untuk mesin” ala Google adalah feature Google Photo yang kini dapat mengategorikan otomatis foto-foto berdasarkan bangunan, lanskap, hewan, bahkan kejadian tertentu.

Potensi salah pelabelan tetap ada, walaupun itu juga merupakan bagian dari proses machine learning. Contoh lain adalah fitur Smart Replay dari Google Inbox yang sekarang memiliki kapabilitas untuk menjawab otomatis surat-surat elektronik GMail berdasarkan kebiasaan dari penggunanya.

Nah, belakangan ini sejumlah perusahaan top semacam IBM, Amazon, dan Microsoft santer dikabarkan terus menyuntikkan investasi dalam machine learning tersebut. Google menjawabnya dengan melepas TensorFlow, sistem teknologi machine learning-nya, ke ranah open source. Ini terbilang sebagai langkah besar mengingat betapa Google dipandang punya kemampuan jauh di depan dalam urusan machine learning.

“Baru saja semalam Google merilis kode open source software library untuk Machine Learning, yang disebut TensorFlow. Kami pikir kode open source software library untuk Machine Learning ini amatlah penting,” kata Corrado

Sebagai catatan, piranti lunak itu merupakan salah satu pendukung dari RankBrain yang juga menjadi otak dari Google Search saat ini. TensorFlow ini juga memiliki kompatibilitas besar karena dapat berjalan di CPU, GPU, dan mobile. “Dengan TensorFlow, Google pun mengharapkan untuk terus mendorong revolusi dari Machine Learning,” imbuhnya.

Maka langkah Google tersebut boleh jadi membuat banyak orang terheran-heran. Lewat video conference, Eric Schmidt selaku executive chairman dari Alphabet yang kini menjadi induk Google, pun menjawabnya langsung.

“Kenapa kami merilis software yang sangat berharga? Karena kami juga mendapat keuntungan jika industri bertambah cerdas. Kalau semua orang menggunakan TensorFlow, di universitas, di lab riset, di seluruh dunia, kami akan diuntungkan karena mereka akan membuatnya jadi lebih kuat dan lebih baik, kami juga akan mendapat lebih banyak pengetahuan, penemuan baru, dan sebagainya,” ujar Schmidt.

“Jadi Google sudah membuat langkah tak biasa dengan merilis salah satu bagian inti library software, yang disebut TensorFlow ini. Dan saya juga akan mengatakannya dengan yakin bahwa itu sedemikian bagus sampai membuat yang lain pada umumnya, termasuk pesaing kami, akan mulai menggunakannya. Dan saya amat bangga. Itu salah satu contoh betapa Google melakukan hal-hal tak biasa,” tuturnya.

sumber : detik.com