Featured Posts

<< >>

Penjualan Perdana Apple Watch Salip Android Wear

Terlalu dini memang bila harus mengukur kesuksesan penjualan Apple Watch. Namun nyatanya, jam tangan pintar besutan Apple ini mengindikasikan ke arah sana. Statistik memperlihatkan, dalam satu hari penjualan Apple Watch

Jokowi Promosikan Ponsel Lokal Seharga Rp 1,5 Juta

Presiden Joko Widodo tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah ponsel layar sentuh berwarna hitam saat wartawan melakukan sesi wawancara dengannya. Saat itu, Jokowi baru saja selesai berkeliling melihat pameran teknologi dan inovasi

Startup Indonesia Disebut Belum Ada yang Bagus

Saat akan memulai usaha rintisan digital (startup), ada satu pertanyaan yang berkutat di kepala para pendirinya. “Bagaimana saya mendapatkan pendanaan?”. Hal itu pula yang sempat dipikirkan Co-Founder dan CEO Bukalapak.comAchmad

Intel, Bukan Sembarang ‘Anak Kemarin Sore’

Di pasar komputasi desktop maupun laptop, Intel juaranya. Namun, di industri mobile, perusahaan ini termasuk pendatang baru. Meski tergolong ‘anak kemarin sore’ di industri chipset smartphone dan tablet, sepak terjangnya

Ternyata Kerja di Apple Itu Tidak Enak

Apple Inc., mungkin menjadi perusahaan teknologi yang paling didambakan oleh para pekerja TI. Namun pengakuan dari mantan karyawan Apple ini mungkin akan mengubah pandangan tersebut. Ben Farrell, yang baru-baru ini

Google Diam-diam Berencana Beli Pesaing WhatsApp?

Beberapa tahun lalu, Google dikabarkan hendak membeli WhatsApp. Pertama kali senilai 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 13 triliun), lalu kedua kali menjadi 10 miliar dollar AS (Rp 131 triliun).

Kabar itu dibantah Google. Kenyataannya, WhatsApp kemudian bersedia diakuisisi Facebook dengan harga lebih menggiurkan, yakni 19 miliar dollar AS atau setara Rp 250 triliun.

Kini, lagi-lagi Google disebut-sebut hendak mengakuisisi layanan pesan singkat. CEO Google Sundar Pichai dikatakan diam-diam telah bertemu pendiri Telegram Pavel Durov pada akhir tahun 2015.

Rumornya, Google berminat membeli pesaing WhatsApp tersebut senilai 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13 triliun. Hal ini dibenarkan beberapa investor yang familiar dengan rencana akuisisi tersebut.

Saat dikonfirmasi, Durov membenarkan pertemuan dengan Pichai, sebagaimana dilaporkan 9to5Google dan dihimpun KompasTekno, Senin (2/5/2016).

Namun Durov enggan mengiyakan soal rencana akuisisi. Juru bicara Telegram bahkan memberikan pernyataan lebih lantang.

“Ini omong kosong. Tak ada pembicaraan akuisisi. Tak ada rencana sama sekali,” kata sang juru bicara.

Benar atau tidaknya akuisisi tersebut, Google tampaknya sedang membangun kiprahnya untuk layanan pesan singkat.

Desember lalu, Google mengatakan sedang mempersiapkan layanan pesan singkat yang bakal dilengkapi asisten digital. Hal ini serupa dengan inisiasi Facebook menyematkan chatbot pada aplikasi Messenger.

Lebih lanjut, Google juga terlibat dalam pendanaan 100 juta dollar AS (Rp 1,3 triliun) untuk startup pesan singkat bernama “Symphony”. Layanan tersebut kurang lebih sama dengan Telegram, yakni mengedepankan keamanan berkomunikasi maya.

Sumber: KOMPAS.com

Ratusan Ribu Hashtag #GMT2016 Ramaikan Twitter

Ratusan Ribu Hashtag #GMT2016 Ramaikan Twitter

Twitter melaporkan ada lebih dari 510 ribu tweet seputar Gerhana Matahari Total (GMT) selama periode 6-9 Maret 2016. Hashtag #GMT2016 meramaikan Twitter.

“Puncak percakapan terjadi pada pukul 07.33 WIB hari ini dengan 1.100 tweet per menit. Hashtag #GMT2016 juga menjadi trending topic nomor satu di Indonesia sejak pagi tadi,” demikian laporan Twitter seperti diterima detikINET, Rabu (9/3/2016).

Momen spesial yang hanya terjadi 350 tahun sekali ini mendapat respons positif dari masyarakat Indonesia. Mulai dari warga biasa sampai publik figur dan pejabat negara seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara membanjiri Twitter dengan foto dan video detik-detik terjadinya gerhana Matahari.

Gerhana Matahari terakhir kali terlihat di Pulau Jawa pada 11 Juni 1983 silam. Tak heran, gerhana Matahari yang kembali menyambangi daratan Indonesia hari ini dianggap momen langka yang membangkitkan antusiasme publik.

Sumber: detik.com

Facebook Bikin Kamus Bahasa Gaul?

Facebook Bikin Kamus Bahasa Gaul?

Facebook kabarnya sedang menggarap software yang bisa membangun kamus kata slang atau bahasa gaul yang digunakan di layanannya.

Software ini akan memindai kata unik yang dipakai di dalam postingan dan komentar Facebook, dan menentukan apakah kata tersebut punya arti di kalangan tertentu.

“Software ini akan mencari tahu kata yang berulangkali digunakan di antara sejumlah pengguna yang punya ciri tertentu, seperti bahasa dan lokasi,” demikian deskripsi paten software tersebut, seperti dilansir The Verge, Kamis (10/3/2016).

Ketika sudah mendeteksi arti dan penggunaan kata tersebut, software akan menambahkannya ke kamus. Dan ketika penggunaannya mulai tidak populer, software akan menghapusnya.

“Kata juga bisa ditambahkan ke kamus berdasarkan polling dari pengguna,” lanjut deskripsi paten tersebut, menjelaskan cara kerja software.

Disebutkan pula bahwa software ini punya interface yang memungkinkan pengguna untuk menambah, menghapus dan mengedit kata di kamus.

Tidak diketahui apakah Facebook benar-benar akan mewujudkannya, atau paten ini sekedar berhenti di konsep. Seperti diketahui, tak semua paten yang diajukan pada menjelma sebagai produk jadi.

Sumber: detik.com

Kiddle Bukan dari Google

Kiddle Bukan dari Google

Kemunculan Kiddle semula disambut baik para orangtua. Belakangan, mesin pencarian khusus anak ini diketahui tidak sepenuhnya aman bagi buah hati.

Banyak pengguna internet mengira Kiddle merupakan produk Google yang didesain khusus untuk anak-anak. Nyatanya, web ini tidak berasosiasi dengan raksasa mesin pencarian tersebut.

Founding Editor Search Engine Land Danny Sullivan melalui akun Twitternya mengatakan Google tidak meluncurkan mesin pencarian anak-anak bernama Kiddle. “Itu adalah situs pihak ketiga yang menggunakan hasil pencarian Google,” sebutnya.

Seperti detikINET kutip dari Mirror, Selasa (8/3/2016), Kiddle memang berniat baik yakni menyediakan sarana berinternet yang aman. Namun pada praktiknya, tool ini menimbulkan kebingungan di kalangan pengguna.

Kiddle menggunakan Google Custom Search bar yang disematkan di dalam web tersebut untuk menyaring konten dewasa. Sejumlah konten memang difilter dan sejumlah istilah eksplisit dan nama selebritis seperti Pamela Anderson diblok.

Namun di saat tertentu, filtering ini tidak sepenuhnya sukses. Dicoba dengan kata pencarian lain, tersisip konten dewasa pada hasil pencarian.

Sejumlah pengguna pun melaporkan hal ini melalui cuitan di Twitter. Beberapa di antaranya bahkan ‘tidak beruntung’ sejak pertama kali menggunakannya.

Pada situs Kiddle tertera keterangan: “Sites appearing in Kiddle search results satisfy family friendly requirements, as we filter sites with explicit or deceptive content.

Artinya, situs ini memerlukan peran aktif para orangtua untuk terus memberikan feedback mengenai konten apa saja yang harus diblokir Kiddle. Menanggapi laporan ini, belum ada komentar apapun dari Kiddle.

sumber: detik.com

Digitalisasi Jadi Fokus Perusahaan di 2016

Digitalisasi Jadi Fokus Perusahaan di 2016

Media sosial, mobilitas, cloud, data analisis, dan internet of things merupakan topik yang menghangat di kalangan industri. Tren-tren tersebut hadir untuk mendukung tujuan yang lebih besar, yakni memungkinkan transformasi perusahaan menjadi bisnis digital.

Dimension Data, penyedia layanan dan solusi ICT menyarankan perusahaan-perusahaan untuk segera melakukan transformasi digital agar mampu lebih responsif terhadap peluang dan ancaman pasar.

Hendra Lesmana, CEO Dimension Data Indonesia menjelaskan, era digital akan segera terjadi dimana teknologi dan data menjadi penentunya. “Transformasi digital menjadi agenda penting perusahaan mengingat hal ini telah mempengaruhi peta persaingan industri saat ini,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/3/2016).

Pembicaraan mengenai transformasi digital yang dilakukan oleh Dimension Data dengan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia berkisar pada empat tema yaitu: data sebagai inti dari transformasi (digital infrastructure), hybrid cloud, workspaces for tomorrow (ruang kerja masa depan), dan cyber security.

-. Digital Infrastructure
Peran data telah berubah secara drastis. Selama beberapa tahun, pelaku data center menghabiskan sebagian besar waktu dan tenaga mereka pada hal-hal seperti storage drives dan backup, serta bagaimana mengerjakan tugas sebaik-baiknya seperti replikasi dan de-duplikasi.

Kemudian fokus utamanya adalah mengurangi biaya pengelolaan data. Semua itu telah berubah. Sekarang, ini hanya masalah penghormatan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan data dan menemukan cara mengubahnya menjadi nilai bisnis.

-. Hybrid Cloud
Sepanjang tahun 2016 akan terjadi peningkatan dalam penerapan private cloud. Para penentu keputusan IT yang telah menerapkan strategi cloud beralih menerapkan new managed private cloud dengan model penjualan berbasis penggunaan.

-. Workspaces for Tomorrow
Banyak kolaborasi media sosial dimungkinkan oleh perangkat-perangkat yang fokus pada pelanggan. Teknologi seperti Facebook, Twitter, LinkedIn, Foursquare, dan lainnya memberikan peluang kepada perusahaan-perusahaan berorientasi bisnis yang menghadirkan audio, video, file-sharing, dan integrasi workflow.

Hal ini termasuk aplikasi ‘team-rooming’ solution Spark dari Cisco, Yammer dan Skype for Business dari Microsoft, Viber, WhatsApp, Slack, dan sebagainya. Teknologi-teknologi ini mendorong terciptanya komunitas, masyarakat, profesi, belanja, dan berinteraksi secara maksimal, berbagi ide, mudah menemukan orang dan informasi, kolaborasi, dan pengambil keputusan yang cepat.

Perilaku-perilaku ini akan semakin banyak terlihat di banyak perusahaan di tahun 2016,memungkinkan end user untuk bekerja bersama secara seamlessly dari berbagai lokasi dan waktu yang berbeda.

-. Cyber Security
Pelanggaran keamanan pada perusahaan-perusahaan ternama di tahun 2015 akan terus berlangsung di tahun 2016. Dan tren baru ‘whaling’ yang cukup mengganggu adalah hacker menargetkan eksekutif senior dengan ransomware, memeras uang atau mengunakan informasi mereka untuk hal yang tidak benar. Selain itu, forensik akan memainkan peran besar dalam area cyber security di tahun ini.

Berdasarkan hasil riset Mobile Workforce Report tahun lalu, diketahui bahwa 43% responden telah menghadirkan solusi berbasis Internet of Things. Akan tetapi organisasi-organisasi bisnis tersebut tidak mendapatkan dampak maksimal dari internet of things pada jaringan korporat dikarenakan dua hal yakni 74% wireless access point masih menggunakan model lama (802.11g atau bahkan lebih tua) yang tidak mendukung strategi mobilitas.

Kemudian hanya 21% dari perangkat jaringan dengan kemampuan IPv6, sementara 48% masih memerlukan upgrade software agar memiliki kemampuan IPv6.

sumber:detik.com