Archive for March 2016

Ratusan Ribu Hashtag #GMT2016 Ramaikan Twitter

Ratusan Ribu Hashtag #GMT2016 Ramaikan Twitter

Twitter melaporkan ada lebih dari 510 ribu tweet seputar Gerhana Matahari Total (GMT) selama periode 6-9 Maret 2016. Hashtag #GMT2016 meramaikan Twitter.

“Puncak percakapan terjadi pada pukul 07.33 WIB hari ini dengan 1.100 tweet per menit. Hashtag #GMT2016 juga menjadi trending topic nomor satu di Indonesia sejak pagi tadi,” demikian laporan Twitter seperti diterima detikINET, Rabu (9/3/2016).

Momen spesial yang hanya terjadi 350 tahun sekali ini mendapat respons positif dari masyarakat Indonesia. Mulai dari warga biasa sampai publik figur dan pejabat negara seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara membanjiri Twitter dengan foto dan video detik-detik terjadinya gerhana Matahari.

Gerhana Matahari terakhir kali terlihat di Pulau Jawa pada 11 Juni 1983 silam. Tak heran, gerhana Matahari yang kembali menyambangi daratan Indonesia hari ini dianggap momen langka yang membangkitkan antusiasme publik.

Sumber: detik.com

Facebook Bikin Kamus Bahasa Gaul?

Facebook Bikin Kamus Bahasa Gaul?

Facebook kabarnya sedang menggarap software yang bisa membangun kamus kata slang atau bahasa gaul yang digunakan di layanannya.

Software ini akan memindai kata unik yang dipakai di dalam postingan dan komentar Facebook, dan menentukan apakah kata tersebut punya arti di kalangan tertentu.

“Software ini akan mencari tahu kata yang berulangkali digunakan di antara sejumlah pengguna yang punya ciri tertentu, seperti bahasa dan lokasi,” demikian deskripsi paten software tersebut, seperti dilansir The Verge, Kamis (10/3/2016).

Ketika sudah mendeteksi arti dan penggunaan kata tersebut, software akan menambahkannya ke kamus. Dan ketika penggunaannya mulai tidak populer, software akan menghapusnya.

“Kata juga bisa ditambahkan ke kamus berdasarkan polling dari pengguna,” lanjut deskripsi paten tersebut, menjelaskan cara kerja software.

Disebutkan pula bahwa software ini punya interface yang memungkinkan pengguna untuk menambah, menghapus dan mengedit kata di kamus.

Tidak diketahui apakah Facebook benar-benar akan mewujudkannya, atau paten ini sekedar berhenti di konsep. Seperti diketahui, tak semua paten yang diajukan pada menjelma sebagai produk jadi.

Sumber: detik.com

Kiddle Bukan dari Google

Kiddle Bukan dari Google

Kemunculan Kiddle semula disambut baik para orangtua. Belakangan, mesin pencarian khusus anak ini diketahui tidak sepenuhnya aman bagi buah hati.

Banyak pengguna internet mengira Kiddle merupakan produk Google yang didesain khusus untuk anak-anak. Nyatanya, web ini tidak berasosiasi dengan raksasa mesin pencarian tersebut.

Founding Editor Search Engine Land Danny Sullivan melalui akun Twitternya mengatakan Google tidak meluncurkan mesin pencarian anak-anak bernama Kiddle. “Itu adalah situs pihak ketiga yang menggunakan hasil pencarian Google,” sebutnya.

Seperti detikINET kutip dari Mirror, Selasa (8/3/2016), Kiddle memang berniat baik yakni menyediakan sarana berinternet yang aman. Namun pada praktiknya, tool ini menimbulkan kebingungan di kalangan pengguna.

Kiddle menggunakan Google Custom Search bar yang disematkan di dalam web tersebut untuk menyaring konten dewasa. Sejumlah konten memang difilter dan sejumlah istilah eksplisit dan nama selebritis seperti Pamela Anderson diblok.

Namun di saat tertentu, filtering ini tidak sepenuhnya sukses. Dicoba dengan kata pencarian lain, tersisip konten dewasa pada hasil pencarian.

Sejumlah pengguna pun melaporkan hal ini melalui cuitan di Twitter. Beberapa di antaranya bahkan ‘tidak beruntung’ sejak pertama kali menggunakannya.

Pada situs Kiddle tertera keterangan: “Sites appearing in Kiddle search results satisfy family friendly requirements, as we filter sites with explicit or deceptive content.

Artinya, situs ini memerlukan peran aktif para orangtua untuk terus memberikan feedback mengenai konten apa saja yang harus diblokir Kiddle. Menanggapi laporan ini, belum ada komentar apapun dari Kiddle.

sumber: detik.com

Digitalisasi Jadi Fokus Perusahaan di 2016

Digitalisasi Jadi Fokus Perusahaan di 2016

Media sosial, mobilitas, cloud, data analisis, dan internet of things merupakan topik yang menghangat di kalangan industri. Tren-tren tersebut hadir untuk mendukung tujuan yang lebih besar, yakni memungkinkan transformasi perusahaan menjadi bisnis digital.

Dimension Data, penyedia layanan dan solusi ICT menyarankan perusahaan-perusahaan untuk segera melakukan transformasi digital agar mampu lebih responsif terhadap peluang dan ancaman pasar.

Hendra Lesmana, CEO Dimension Data Indonesia menjelaskan, era digital akan segera terjadi dimana teknologi dan data menjadi penentunya. “Transformasi digital menjadi agenda penting perusahaan mengingat hal ini telah mempengaruhi peta persaingan industri saat ini,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/3/2016).

Pembicaraan mengenai transformasi digital yang dilakukan oleh Dimension Data dengan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia berkisar pada empat tema yaitu: data sebagai inti dari transformasi (digital infrastructure), hybrid cloud, workspaces for tomorrow (ruang kerja masa depan), dan cyber security.

-. Digital Infrastructure
Peran data telah berubah secara drastis. Selama beberapa tahun, pelaku data center menghabiskan sebagian besar waktu dan tenaga mereka pada hal-hal seperti storage drives dan backup, serta bagaimana mengerjakan tugas sebaik-baiknya seperti replikasi dan de-duplikasi.

Kemudian fokus utamanya adalah mengurangi biaya pengelolaan data. Semua itu telah berubah. Sekarang, ini hanya masalah penghormatan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan data dan menemukan cara mengubahnya menjadi nilai bisnis.

-. Hybrid Cloud
Sepanjang tahun 2016 akan terjadi peningkatan dalam penerapan private cloud. Para penentu keputusan IT yang telah menerapkan strategi cloud beralih menerapkan new managed private cloud dengan model penjualan berbasis penggunaan.

-. Workspaces for Tomorrow
Banyak kolaborasi media sosial dimungkinkan oleh perangkat-perangkat yang fokus pada pelanggan. Teknologi seperti Facebook, Twitter, LinkedIn, Foursquare, dan lainnya memberikan peluang kepada perusahaan-perusahaan berorientasi bisnis yang menghadirkan audio, video, file-sharing, dan integrasi workflow.

Hal ini termasuk aplikasi ‘team-rooming’ solution Spark dari Cisco, Yammer dan Skype for Business dari Microsoft, Viber, WhatsApp, Slack, dan sebagainya. Teknologi-teknologi ini mendorong terciptanya komunitas, masyarakat, profesi, belanja, dan berinteraksi secara maksimal, berbagi ide, mudah menemukan orang dan informasi, kolaborasi, dan pengambil keputusan yang cepat.

Perilaku-perilaku ini akan semakin banyak terlihat di banyak perusahaan di tahun 2016,memungkinkan end user untuk bekerja bersama secara seamlessly dari berbagai lokasi dan waktu yang berbeda.

-. Cyber Security
Pelanggaran keamanan pada perusahaan-perusahaan ternama di tahun 2015 akan terus berlangsung di tahun 2016. Dan tren baru ‘whaling’ yang cukup mengganggu adalah hacker menargetkan eksekutif senior dengan ransomware, memeras uang atau mengunakan informasi mereka untuk hal yang tidak benar. Selain itu, forensik akan memainkan peran besar dalam area cyber security di tahun ini.

Berdasarkan hasil riset Mobile Workforce Report tahun lalu, diketahui bahwa 43% responden telah menghadirkan solusi berbasis Internet of Things. Akan tetapi organisasi-organisasi bisnis tersebut tidak mendapatkan dampak maksimal dari internet of things pada jaringan korporat dikarenakan dua hal yakni 74% wireless access point masih menggunakan model lama (802.11g atau bahkan lebih tua) yang tidak mendukung strategi mobilitas.

Kemudian hanya 21% dari perangkat jaringan dengan kemampuan IPv6, sementara 48% masih memerlukan upgrade software agar memiliki kemampuan IPv6.

sumber:detik.com

Butuh 3 SIM Card Agar Tenang Belajar Online

Koneksi internet sudah menjadi kebutuhan, tak bisa ditawar. Akses internet merata dan stabil diperlukan masyarakat untuk mengakses konten, informasi dan hiburan.

Setidaknya, isu ini menjadi bagian dari pengalaman para pengguna HarukaEdu. Sebagai situs e-learning, HarukaEdu memerlukan koneksi stabil untuk mendukung aktivitas belajar online.

“Ada mahasiswa kami yang sampai pakai 3 SIM card. Untuk backup, jaga-jaga ketika koneksinya jelek, dia ganti ke SIM card lainnya. Ini terjadi pada mahasiswa yang berada di luar Jakarta. Kalau sekitar Jakarta sejauh ini lancar,” kata CEO HarukaEdu Novistiar Rustandi.

Ditemui di acara Google Launchpad Accelerator, Novistiar berbagi pengalamannya mengurus startup. Bagi Novistiar dan timnya, belum merata dan stabilnya koneksi internet jadi salah satu tantangan yang harus mereka selesaikan.

“Masalah ini secara teknis kami atasi dengan membuat situs lebih ringan dan bisa diakses untuk kecepatan internet yang lambat. Kita juga ingin buat materi-materi perkuliahan bisa diakses offline,” ujarnya.

Mengenai HarukaEdu sendiri, startup yang didirikan pada 2013 sudah terbilang berkembang dengan keistimewaannya di area e-learning. HarukaEdu adalah sebuah startup pendidikan yang membantu universitas dan institusi pendidikan lainnya di Indonesia untuk mentransform program kuliah tatap muka (offline) menjadi program kuliah e-learning yang berkualitas, terjangkau, serta bisa diakses di manapun mereka berada.

Dikatakan Novistiar, dari 111 juta pekerja di Indonesia, hanya sekitar 7,5 juta bergelar sarjana, sisanya adalah lulusan Diploma dan SMA. Masalahnya, kebanyakan perusahaan menjadikan gelar sarjana sebagai penyaring pertama saat menerima kerja.

“Yang Diploma dan lain-lain sebenarnya punya kemampuan untuk menempati posisi yang ditawarkan. Tapi karena sibuk bekerja, mereka gak bisa kuliah. Jadi bagaimana caranya agar para profesional ini bisa tetap bekerja sambil kuliah online,” ujarnya.

Melalui HarukaEdu, mahasiswa dibantu belajar dengan waktu yang fleksibel, mengikuti jadwal bekerja mereka. Ini menurutnya sangat menolong bagi profesional yang jam kerjanya tidak tentu, misalnya pramugari.

“Sistem pembelajaran online sama dengan belajar di kelas. Mahasiswa perlu menonton video materi yang disediakan kampus, dosen hadir dua kali seminggu untuk menjawab pertanyaan mahasiswa dan berdiskusi. Ada kuis, ulangan tengah semester, akhir semester dan skripsi untuk mendapatkan ijazah,” paparnya.

Saat ini HarukaEdu sudah bekerjasama dengan tiga perguruan tinggi yakni London School of Public Relations (LSPR), Universitas Wiraswasta Indonesia (UWIN), dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI).

HarukaEdu juga memiliki portal pendidikan online yang memungkinkan pengguna mengikuti berbagai macam pendidikan formal maupun informal secara online seperti kelas online, kuliah online, dan sertifikasi online.

HarukaEdu menargetkan di 2016 bisa menerima 2.500 mahasiswa online. Saat ini ada 500 mahasiswa dari ketiga universitas yang digandeng mengikuti kelas belajar di HarukaEdu. Selain kelas berbayar, layanan yang tersedia di website maupun mobile ini juga membuka sejumlah kelas gratis.

HarukaEdu terpilih sebagai salah satu dari 8 startup potensial asal Indonesia yang masuk dalam program Google Launchpad Accelerator. Bersama tujuh startup lainnya, Novistiar mendapatkan mentoring dari para ahli di markas besar Google di Mountain View, California, Amerika Serikat.

sumber: detik.com